Minggu, 06 November 2011

MAKALAH DESAIN DESKRIPTIF

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Metode penelitian pendidikan pada dasarnya mengkaji konsep-konsep, prinsip, pendekatan, metode dan teknik penelitian pendidikan. Dibahas pula tentang penerapan teori-teori penelitian dalam praktek di lapangan atau melakukan suatu penelitian, khususnya dalam bidang pendidikan yang dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.

Secara sistematis, suatu penelitian yang dilakukan berdasarkan metode ilmiah tentu diawli dengan merumuskan masalah, dilanjutkan dengan observasi mendalam mengenai masalah tersebut, kemudian peneliti akan membuat tujuan penelitian, manfaar penelitian, dan sebagainya. Diteruskan dengan melakukan tinjauan pustaka mengenai teoi yang berkaitan dengan masalah penelitian yang telah diajukan sebelumnya. Dari melakukan tinjauan pustaka, peneliti akan mendapatkan pemahaman yang utuh untuk masalah penelitian yang tlah diajukan, sehingga peneliti sudah memiliki jawaban sementara terhadap masalah tersebut.

Penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh informasi tentang status gejala saat penelitian dilakukan. Penelitian ini diarahkan untuk menetapkan sifat suatu situasi pada waktu penyelidikan itu dilakukan. Dalam penelitian deskriptif tidak ada perlakuan yang diberikan atau dikendalikan seperti yang dapat ditemui dalam penelitian eksperimen.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah:

1. Apa yang dimaksud dengan rancangan penelitian deskriptif?

2. Apa saja langkah-langkah dari penelitian deskriptif?

3. Apa saja macam-macam desain deskriptif?

C. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk:

1. Memahami tentang pengertian rancangan penelitian deskriptif.

2. Memahami langkah-langkah penelitian deskriptif.

3. Memahami masing-masing jenis penelitian deskriptif.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Penelitian Deskriptif

Penelitian deskriptif memusatkan perhatiannya pada fenomena yang terjadi pada saat ini. Penelitian ini berusaha untuk membuat deskripsi fenomena yang diselidiki dengan cara melukiskan dan mengklasifikasikan fakta atau karakteristik fenomena tersebut secara faktual dan cermat. Deskripsi di sini berarti melukiskan variabel demi variabel, tanpa dihubungkan antara yang satu dengan yang lain, sehingga datanya diperlakukan sebagai univariat (Rakhmat,1989).

Penelitian deskriptif adalah studi untuk menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat. Desain penelitian deskriptif dimaksudkan untuk mendapatkan deskripsi tentang suatu kenyataan atau menguji hubungan antara kenyataan yang ada atau telah terjadi pada subyek. Dalam desain ini, peneliti tidak melakukan manipulasi perlakuan atau penempatan subjek. Secara garis besar ada 3 macam desain dalam kelompok ini, yaitu : deskriptif sederhana, korelsaional, dan diferensial.

B. Macam-macam Desain Deskriptif

B.1. Desain Deskriptif Sederhana

Desain penelitian ini dirancang untuk mendapatkan informasi tentang karakter atau kenyataan sebagai mana adanya. Penelitian seperti ni hanya mendeskripsikan pencapaian, sikap, perilaku, atau karakteristik lain dari sekelompok subjek. Kenyataan tersebut dipelajari secara tersendiri tanpa dikaitkan atau dihubungkan dengan kenyataan lain. Peneliti hanya sekedar melakukan pengukuran terhadap kenyataan yang ditemui, tanpa melakukan manipulasi perlakuan atau subjek.

Tujuan utama penelitian deskriptif adalah untuk memberikan gambaran yang jelas dan akurat tentang material atau fenomena yang sedang diselidiki. Dalam rangka mendeskripsikan fenomena tersebut, diperlukan observasi yang intensif terhadap fenomena kependidikan yang dapat menjadi dasar yang sangat diperlukan untuk penelitian lebih lanjut, seperti korelasional, diferensial, dan kausal. Sebagai contoh, dalam rangka memenuhi tugas akhir (skripsi) program sarjana, seorang mahasiswa bermaksud mengadakan penelitian tentang hubungan antara gaya mengajar dan keberhasilan belajar siswa. Sebagai langkah pertama, ia harus mampu mendeskripsikan secara akurat gaya mengajar guru. Pertanyaan deskripsi yang diajukan mungkin: bagaimana gaya mengajar guru? Setelah pertanyaan ini terjawab, barulah ia dapat menghubungkan variabel tersebut dengan keberhasilan siswa. Contoh lain, seorang peneliti ingin menyelidiki perbedaan pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku keberagaman siswa. Sebelum secara langsung dapat mengajukan permasalahan ini, ia harus mendeskripsikan lingkungan sosial. Langkah selanjutnya barulah ia dapat menghubungkan lingkungan sosial dengan perilaku keberagaman siswa. Meskipun berfungsi sebagai dasar pijakan penelitian lain, bukan berarti bahwa penelitian deskriptif harus selalu dikaitkan dengan jenis penelitian lain. Dalam penelitian perkembangan atau developmental research, misalny penelitian bermaksud semata-mata mendeskripsikan perubahan suatu fenomena yang terjadi pada subjek dalam kaitannya dengan kurun waktu tertentu. Berikut ini adalah pertanyaan yang khas untuk desain ini:

§ Berapa kali rata-rata dosen memberikan kuliah selama satu semester?

§ Bagaimana sikap mahasiswa FKIP terhadap kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru?

§ Bagaimana hasil UAN siswa-siswa yang belajar disekolah favorit dan non favorit?

Untuk mendapatkan informasi tentang suatu kenyataan dari jumlah individu yang besar (populasi), peneliti dapat menggunakan langkah-langkah berikut:

1) Penentuan tujuan penelitian

Peneliti harus membuat peryataan tujuan yang jelas dan tidak ambigu. Kejelasan ini salah satunya dapat dicapai dengan memberikan definisi operasional terhadap kata-kata kunci atau variabel, yang juga akan memberikan kemudahan dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Misalnya : ada banyak penelitian tentang suasana kelas, maka peneliti harus dapat mendefinisikan “suasana kelas” pada penelitiannya.

2) Pemilihan sumber dan populasi target

Peneliti sebaiknya memberikan definisi yang terlalu luas, karana akan menyulitkan memperoleh sample yag representative. Atau terlalu sempit, karna akan memperlemah validitas eksternalnya. Misalnya seorang peneliti memberikan batasan “ remaja” dengan ketentuan mereka yang belajar di sekolah menengah yang berumur antara 13 dan 18 tahun.

3) Pemilihan dan pengembangan teknik pengumpulan data

Pengumpulan data dapat menggunakan angket dan wawancara personal. Di samping itu catatan-catatanyang seringkali berisi informasi penting tentang data-data pribadi, misalnya dimiliki oleh sekolah , juga dapat digunakan sebagai sumber data. Untuk contoh “remaja” diatas, peniliti dapat menggunakan angket yang dibuat dan dikembangkan untuk memperoleh gambaran profil remaja yang komprehenship tentang sikap, nialai, kenyakinan, pandangan, harapan, dan perilaku.

4) Pemilihan sampel

Pemilihan sampel umumnya secara teknik acak atau bertingkat(stratified). Hal ini karna teknik ini lebih menjamin bahwa sampel yang terpilih cukup mewakili populasi target.

5) Prosedur pengumpulan data

Pengumpulan data dapat secara langsung berhadapan dengan sumber informasi atau secara tidak langsung. Bila pengumpulan data secara langsung, peneliti dapat menyerahkan angket tau melakukan wawancara dengan subjek. Meskipun memerlukan tenaga dan biaya yang relative banyak, cara ini dapat menghemat waktu sehingga respon subjek segera dapat diketahui. Dengan demikain, jika diperlukan penggantian sebjek yang telah dipilih, mungkin kara tidak bersedia atau tidak dapat ditemui, dapat segera diganti dengan yang lain. Bila pengumpulan data dilakukan secara tidak langsung, biasanya angket, daftar pertanyaan atau isian dikirimkan melalui jasa pengiriman dengan jangka waktu yang dibatasi. Baik secara langsung maupun tidak langsung, penggantian subjek dilakukan jika subjek yang tidak memberikan respon(non responden) mencapai lebih dari 30 %dari total sampel yang ditargetkan.

6) Analisis data dan penyajian hasil

Data yang terkumpul bisanya dianalisis dengan teknik statistic deskriftif. Hasilnya disajikan dalam bentuk table tentang frekuensi, presentase, atau proporsi. Untuk menarik dan memudahkan pembaca memahaminya, hasil tersebut sering kali juga disajikan dalam bentuk grafik.

Dibawah ini disajikan gambaran hasil penelitian deskriptif yang mengawali analisis lebih lanjut. Pada tabel1 diperlihatkan variasi distribusi nilai dari tiga variabel, yaitu: MPS, Harapan, dan MPP. Nilai harapan yang ditargetkan oleh mahasiswa memiliki mean tertinggi (M=3,68) tetapi dengan SD dan rentang terendah (SD=0,32 dan rentang = 1.2). sebaliknya, nilai MPP mempunyai mean terendah (M=2,88) tetapi dengan SD dan rentang tertinggi ( SD=0,85 dan rentang=4.00). sedang mean, SD dan rentang nilai MPS berada diantara kedua variable (berturut-turut M=3,03 ; SD=0,57; rentang=2,5). Hal ini menunjukkan bahwa nilai ang diharapkan mahasiswa terdistribusi secara lebih homogen daripada nilai dua variable yang lain. Sebaliknya distibusi nilai MPP yag diperoleh oleh mahasiswa lebih heterogen. Meskipun nilai yang diharapkan atau ditargetkan oleh mahasiswa berkisar anatara 2,8 dan 4,0 (B+ s.d A), Dalam kenyataannya nilai yang mereka peroleh merentang lebih luas antara nilai minimal dan maksimal yang mungkin dapat dicapai (antara 0,0 dan 4,0 atau E dan A). Disamping itu, mean yang diharapkan juga lebih tinggi dari kedua mean nilai nyata dengan kata lain, harapan mahasiswa berada diatas prestasi real mereka.

Tabel 1. Hasil analisis deskriptif nilai mahasiswa

Variabel

Jumlah

Maksimum

Minimum

Rentang

M

SD

MPS

70

3,8

1,3

2,5

3,03

0,57

Harapan

70

4,0

2,8

1,2

3,68

0,32

MPP

70

4,0

0,0

4,0

2,88

0,85

Sumber:Hadjar I. 1933. Prestasi Belajar Mahasiswa: Antara Hrapan dan Kenyataan ( Studi Kasus Mata Kuliah Metedologi Penelitian Pendidikan), Jurnal Penelitian Wali Songo, 1,1-9, hal. 4.

B.2. Desain Deskriptif Korelasional

Fokus yang menjadi perhatian dari desain ini adalah pengukuran terhadap hubungan antara dua fenomena atau lebih. Disebut desain korelasional karena dalam pelaksanaannnya menggunakan teknik analisis statistik korelasi tersebut menggambarkan tingkat hubungan antara variabel yang diselidiki. Ada dua macam korelasi, yaitu positif dan negatif. Korelasi positif terjadi bila penyebaran skor pada satu variabel di ikuti secara konsisten oleh penyebaran skor pada variabel lain dengan arah yang sama, yaitu skor yang tinggi pada satu variabel di ikuti pula oleh skor-skor tinggi pada variabel lain. Sedangkan korelasi negatif terjadi bila arah penyebaran skor ke dua variabel berlawanan arah. Pertanyaan tentang diferensiasi yang diajukan mungkin: apakah terdapat perbedaan sikap terhadap sekolah antara siswa tingkat 8 dan dibandingkan dengan siswa tingkat 9? Bagaimana guru baru berbeda dengan guru yang berpengalaman? Adakah perbedaan skor konsep diri siswa tingkat dua, tiga, dan empat?

Penelitian korelasi dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan arah hubungannya, yaitu prediktif (satu arah, dapat ditentukan variabel mana yang datang lebih dulu), dan relasional (dua arah, tidak dapat ditentukan variabel mana yang datang lebih dulu).

Penelitian korelasi prediktif lebih memfokuskan pada pengukuran terhadap satu variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk memprediksi atau meramal kejadian di masa yang akan datang atau variabel lain. Penelitian ini melibatkan perhitungan korelasi antara variabel yang menjadi sasaran prediksi atau yang diramalkan kejadiaannya (disebut kriteria) dan variabel yang dipakai untuk memprediksi (prediktor). Kedua variabel di ukur dalam waktu yang berurutan, yakni variabel prediktor di ukur sebelum variabel kriteria terjadi, dan tidak dapat sebaliknya.

Penelitian relasional hanya menyelidiki apakah ke dua variabel mempunyai hubungan-hubungan, tanpa mempunyai anggapan bahwa variabel yang satu muncul lebih awal dari yang lain. Oleh karena itu, kedua variabel di ukur dalam waktu yang bersamaan. Selain dua penelitian prediktif dan relasional, penelitian korelasional dapat juga berbentuk multivariate. Teknik korelasi multivariat mengukur dan menyelidiki tingkat hubungan antar kombinasi tiga variabel atau lebih.

Pada dasarnya penelitian korelasional, baik relational, prediktif, maupun multivariate, melibatkan perhitungan korelasi antara variabel yang kompleks dengan variabel lain yang dianggap mempunyai hubungan tersebut, desain atau langkah-langkahnya sebagai berikut:

1) Penentuan Masalah

langkah awal yang harus dilakukan peneliti adalah menentukan masalah penelitian yang akan menjadi fokus studinya. Dalam masalah korelasional, masalah yang harus dipilih harus mempunyai nilai yang berarti dalam pola prilaku fenomena yang kompleks yang memerlukan pemahaman. Disamping itu variabel yang akan dimasukkan dalam penelitian harus didasarkan pada pertimbangan, baik secara teoritis maupun nalar, bahwa hubungan variabel tersebut mempunyai hubungan tertentu.

2) Penentuan Subyek

Subyek yang dilibatkan dalam penelitian harus dapat diukur dalam variabel-variabel yang menjadi fokus penelitian. Subyek tersebut harus homogen dalam faktor-faktor di luar variabel yang diteliti yang mungkin dapat mempengaruhi variabel terikat. Bila subyek yang dilibatkan mempunyai perbedaan yang berarti dalam faktor-faktor tersebut, korelasi antar variabel yang diteliti menjadi kabur. Misalnya; peneliti harus memilih subyek yang relative mempunyai tingkat kecerdasan yang homogeny. Bila tingkat kecerdasan subyek heterogen, hubungan yang mungkin ada antara kedua variabel menjadi tidak jelas karena sangat besar kemungkinannya hubungan tersebut sebagai efek dari kecerdasan terhadap kedua variabel.

3) Pengumpulan Data

Berbagai jenis instrumen dapat digunakan untuk mengukur dan mengumpulkan data masing-masing variabel, seperti angket, tes, pedoman interview, dan pedoman observasi, tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Data instrumen yang dkumpulkan harus berbentuk angka.

4) Analisis Data dan Penyajian Hasil

Dalam penelitian relasional, teknik korelasi bivariat digunakan untuk menghitung tingkat hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Sedang dalam penelitian prediktif, teknik yang digunakan adalah analisis regresi untuk mengetahui tingkat kemampuan prediktif variabel prediktor terhadap variabel kriteria. Bila melibatkan lebih dari dua variabel teknik analisis regresi ganda atau analisis kanonik dapat digunakan. Untuk menguji hubungan nilai variabel yang non-parametrik digunakan Chi-Kuadrat. Hasil analisis tersebut biasanya dilaporkan dalam bentuk nilai koefisien korelasi atau koefisien regresi serta tingkat signifikansinya, disamping proporsi variansi yang disumbangkan oleh variabel bebas terhadap variansi variabel terikat.

Dibawah ini disajikan gambaran hasil penelitian prediktif dan penelitian relasional. Pada tabel 2 disajikan hasil penelitian tentang hubungan antara variable berpikir keagamaan dan sikap keagamaan, dengan teknik Pearson Product Moment.

Tabel2. Nilai korelasi Pearson Product Moment untuk skor RTTA dan skala sikap keagamaan

Subjek

Korelasi Pearson Product Moment (r)

n

Taraf signifikansi

Semua siswa

-0,1183

2080

0,0001

Siswa pria

-0,1262

1128

0,0001

Siswa wanita

-0,1098

952

0,0001

Siswa katolik

-0,1528

1016

0,0001

Siswa protestan

-0,1603

1064

0,0001

Dari data diatas nialai r yang negatif menunjukkan bahwa sementara skor RTTA naik, skor skala sikap keagamaan menurun. Kesimpulannya adalah bahwa meskipun ada hubungan antara berpikir keagamaan, diukur dengan instrumen TAB pealting, dan sikap keagamaan, diukur dengan RAS, hubungan tersebut tidak terlalu dekat. Hubungan tersebut sedikit lebih kuat pada kelompok agama dari pada siswa secara keseluruhan.

Sumber : J.E. Greer. 1981. Religious attitudes and thinking in Belfast pupils, Educational search,23, 177-189.

Pada tabel2 disajika hasil penelitian korelasional prediktif. Dalam table tersebut terliahat bahwa nilai MPS hanya member kontribusi 6,8 persen untuk memprediksi nilai harapan. Selanjutnya, nilai MPS dan harapan masing-masing mempunyai kontribusi 1,9 prsen dan 3,3 persen untuk memprediksi nilai MPP. Meskipun keduanya tidak signifikan nilai harapan member kontribusi yang lebih besar untuk memprediksi nilai MPP daripada nilai MPS.

Tabel3. Hasil analisis regresi variabel prediktor terhadap variabel criteria

Kriteria

Prediktor

R

R2

F

df

Signifikansi

Harapan

MPS

0,261

0,068

4,959

1,68

p < 0,05

MPP

MPS

0,139

0,019

1,350

1,68

p > 0,10

 

Harapan

0,183

0,033

2,353

1,68

p > 0,10

Hasil analisis regresi, sebagaimana di sajikan dalan table 3 menunjukkan bahwa MPS mempunyai efek yang signifikan (F= 4,959; p < 0,05) terhadap harapan. Dengan kata lain nilai MPP yang diharapkan oleh mahasiswa secara signifikan dapat diprediksi dari nilai MPS yang diperoleh pada semester sebelumnya.

B.3. Desain Deskriptif Diferensial

Penelitian diferensial merupakan jenis penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang apakah ada perbedaan nilai suatu observasi (disebut variabel terikat atau dependen) berdasarkan klasifikasi subyek (disebut variabel bebas atau independen). Hasil penelitian ini mempunyai nilai yang lebih, misalnya bila dibandingkan dengan penelitian deskriptif dan korelasional, karena dapat untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya hubungan kausal atau sebab akibat antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini mempunyai kesamaan dengan eksperimen dan ex post facto karena adanya komparasi dalam desainnya.

Desain ini digunakan untuk menyelidiki perbedaan suatu kenyataan yang terjadi pada dua kelompok yang berbeda. Peneliti diferensial disebut juga penelitian komparatif yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentangapakah da perbedaan nilai suatu observasi (disebut variable terikat) berdasarkan klasifikasi subjek (disebut factor variable bebas) bentuk sederhana dari desain jenis ini adalah penyelidikan yang memusatkan pada perbedaan antara kinerja (performance) antara dua kelompok dalam suatu variabel terikat (kenyataan yang dibandingkan). Tidak ada manipulasi terhadap perlakuan maupun subjek karna apa yang terjadi sudah ada pada subjek. Pertanyaan yang khas untuk penelitian ini adalah:

ü Apakah siswa pria memilki sikap keagamaan yang berbeda dari siswa wanita?

ü Apakah siswa yang “nakal” mempunyai prestasi berbeda dari siswa yang “ tidak nakal” ?

ü Apakah siswa yang berasal dari sekolah “favorit” mempunyi prestasi lebih baik daripada prestasi siswa yang berasal dari sekolah “kurang favorit” ?

Secara garis besar, penelitian komparatif ini dapat dibedakan menjadi dua: jalur tunggal dan jalur ganda. Dalam penelitian jalur tunggal, perbedaan kelompok hanya didasarkan pada satu faktor atau variabel bebas. Misalnya; penelitian yang membandingkan prestasi belajar berdasarkan jenis kelamin (pria, wanita). Namun bentuk ini dapat pula melibatkan melibatkan faktor dengan hanya klasifikasi tunggal (subyek yang sama) dan dua observasi, misal membandingkan nilai tes awal dan nilai tes akhir yang diperoleh siswa suatu kelas (tanpa memperhatikan kelompoknnya).

Desain penelitian komparatif jalur tunggal yang faktornya hanya satu, dapat diilustrasikan sebagai berikut:

A

A1

A2

Y1

Y2

Keterangan :

1. Bila faktor mempunyai dua kelompok dan satu observasi;

A : faktor atau variabel bebas (jenis kelamin)

A1 : kelompok satu faktor A (pria)

A2 : kelompok dua faktor A (wanita)

Y1 : nilai observasi atau variabel terikat untuk subyek anggota kelompok satu faktor A (A1)

Y2 : nilai observasi atau variabel terikat untuk subyek anggota kelompok dua faktor A (A2)

2. Bila faktor berklasifikasi tunggal dan dua observasi;

A : faktor (siswa)

A1 : observasi satu (tes awal)

A2 : observasi dua (tes akhir)

Y1 : nilai yang diperoleh subyek pada observasi satu (nilai tes awal)

Y2 : nilai yang diperoleh subyek pada observasi dua (nilai dua akhir)

Bila faktornya terdiri dari lebih dua kelompok dengan satu observasi atau satu kelompok dengan lebih dari dua observasi, desainya sebagai berikut :

A

A1

A2

A3

dst

Y1

Y2

Y3

dst

Berbeda dari jalur tunggal, penelitian komparatif jalur berganda, juga disebut komparatif faktorial, melibatkan dua faktor atau lebih dengan masing-masing dua kelompok atau lebih, sedangkan observasinya (variabel terikat) hanya satu. Bila faktornya terdiri dari dua variabel disebut komparatif dua jalur, bila terdiri dari tiga disebut komparatif faktorial tiga jalur dan seterusnya.

Untuk lebih jelasnya, sebagai contoh: seorang peneliti ingin menyelidiki apakah ada perbedaan prestasi mahasiswa dalam mata kuliah tertentu berdasarkan faktor jenis kelamin dan kepangkatan dosen. Karena faktornya hanya dua (A= jenis kelamin; B= kepangkatan dosen) dan masing-masing faktor A terdiri dua kelompok (A1= mahasiswa pria; A2= mahasiswa wanita) dan faktor B terdiri dari tiga kelompok (B1= diajar oleh asisten, B2= diajar oleh lektor, B3= diajar oleh guru besar), maka ada dua perbandingan tingkat pertama, yakni antar kelompok dalam masing-masing faktor utama ( pertama, antar A1 dan A2; kedua antar B1, B2, B3). Sedang pada tingkat kedua hanya satu perbandingan, yakni antar kelompok interaksi faktor A dan B (antara A1B1 [pria diajar oleh asisten], A1B2 [pria diajar oleh lektor], A1B3 [pria diajar oleh guru besar], A2B1 [wanita diajar oleh asisten], A2B2 [wanita diajar oleh lektor], A2B3 [wanita diajar oleh guru besar]).

Dengan demikian, desain penelitian komparatif jalur ganda dengan dua faktor dapat digambarkan sbb:

 

A

 
 

A1

A2

B

B1

Y11

Y21

Y1

B2

Y12

Y22

Y2

B3

Y13

Y23

Y3

 

Y1

Y2

 

Keterangan :

A : faktor pertama (jenis kelamin), A1 (kelompok pria), A2 (kelompok wanita)

B : faktor kedua (pangkat dosen), B1 (kelompok yang diajar oleh asisten), B2 (kelompok yang diajar oleh lektor), B3 (kelompok yang diajar oleh guru besar).

Y : nilai observasi atau variabel terikat yang dibandingkan (nilai mata kuliah)

Pada kolom A : Y1 (nilai kelompok pria)

Y2 (nilai kelompok wanita)

Pada lajur B : Y1 (nilai kelompok yang diajar oleh asisten)

Y2 (nilai kelompok yang diajar oleh lektor)

Y3 (nilai kelompok yang diajar oleh guru besar)

Pada kotak interaksi :

Y11 (nilai kelompok pria yang diajar oleh asisten)

Y12 (nilai kelompok pria yang diajar oleh lektor)

Y13 (nilai kelompok pria yang diajar oleh guru besar)

Y21 (nilai kelompok wanita yang diajar oleh asisten)

Y22 (nilai kelompok wanita yang diajar oleh lektor)

Y23 (nilai kelompok wanita yang diajar oleh guru besar)

Sebagaimana dibahas sebelumnya, pada dasarnya penelitian diferensial, baik jalur tunggal maupun jalur berganda, melibatkan perhitungan komparasi, yakni membandingkan mean nilai observasi antar kelompok, utama maupun interaksi. Untuk menguji perbandingan tersebut desain atau langkah-langkah yang ditempuh untuk kedua jenis penelitian sama, meskipun detail masing-masing langkah keduanya berbeda. Langkah-langkah tersebut :

1) Penentuan Masalah

Masalah dalam penelitian ini harus cukup berarti baik untuk tujuan praktis, teoritis maupun pengembangan penelitian lebih lanjut. Masalah tersebut harus dirumuskan secara singkat dan jelas, dapat berbentuk peryataan tujuan, hipotesis atau pertanyaan tergantung informasi pendahuluan yang dapat diperoleh oleh peneliti. Untuk memperjelas rumusan, kata-kata kunci atau variable perlu didefinisikan secra operasional. Contoh masalah yang diangkat adalah: “ apakah prestasi matematika siswa kelas dua, tiga dan empat berhubungan dengan perkembangan kognitif dan gaya kognitif ? “

2) Penentuan Subjek

Subyek harus relatif homogen, dengan jumlah yang tergantung pada jenis penelitiannya. Berapapun jumlah yang dipilih, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa jumlah tersebut harus seimbang antara kelompok satu dengan kelompok lain, karena berpengaruh terhadap hasilnya. Untuk contoh masalah diatas, peneliti melibatkan 102 orang siswa yang dipilih secara acak dari kelas dua, tiga dan empat sebuah sekolah dipinggiran kota Jakarta. Dari masing-masing kelas dipilih 34 subyek (17 pria dan 17 wanita)

3) Pengumpulan Data

Berbagai jenis instrumen dapat digunakan untuk mengukur dan mengumpulkan data variabel terikat, seperti angket, tes, pedoman interview, dan pedoman observasi. Data yang dikumpulkan tersebut harus dalam bentuk angka. Untuk contoh masalah diatas, peneliti menggunakan tiga macam instrumen untuk mengukur variabel terikat dan variabel bebasnya. Untuk mengukur perkembangan kognitif, digunakan tes konservasi. Sedang untuk mengukur gaya kognitif, digunakan Children Embedded Figure Test (CEFT) yang dikembangkan untuk anak-anak berumur 5-10 tahun. Untuk mengukur prestasi belajar matematika digunakan tes kemampuan matematika yang terbagi dalam tiga sub-tes yang mengukur: konsep, komputasi dan aplikasi.

4) Analisis Data

Langkah pertama dalah mengolah data veriabel terikat dengan teknik analisis deskriftif, untuk subyek masing-masing kelompok (utama dan interaksi) dan seluruh subyek atau masing-masing observasi. Langkah selanjutnya, menguji perbedaan digunakan teknik yang berbeda, sesuai dengan jenis penelitiannya.untuk komparatif jalur tunggal yang hanya mempunyai dua kelompok digunakan t-test (uji-t). bila kelompoknya lebih dari dua digunakan analisis varians (anava). Sedangkan untuk komparatif jalur berganda hanya dengan satu observasi digunakan teknik factorial analisis varians (factorial anava), dan bila observasinya lebih dari satu digunakan teknik anava multivariate (manava), untuk contoh permasalahan diatas, peneliti menggunakan faktorial (2x2) anava untuk menguji perbedaan total nilai matematika bardasarkan interaksi faktor perkembangan kognitif dan gaya kognitif.

Dibawah ini disajikan gambaran hasil penelitian diferensiasi jalur tunggal. Dari tabel4 dapat kita ketahui bahwa nilai yang diharapkan/ ditargetkan mahasiswa untuk dicapai dalam mata kuliah MPP secara sangat signifikan berbeda dari nilai MPS yang mereka peroleh pada semester sebelumnya. Begitu juga nilai MPP yang mereka harapkan secara sangat signifikan berbeda dari nilai MPP yang mereka peroleh setelah menyelesaikan program perkuliahan. Dengan demikian, nilai yang diharapka oleh mahasiswa secara meyakinkan lebih tinggi daripada nilai yang secara nyata mereka peroleh , baik MPS (diperoleh pada semester berikutnya) maupun MPP (diperoleh pada akhir kuliah). Lebih lanjut perbandingan nilai yang diperoleh mahasiswa dalam kedua mata kuliah dibidang penelitian, MPS dan MPP tidak menghasilkan perbedaan yang berarti.

Tabel4. Hasil analisis uji-t antar nilai mahasiswa

Pasangan

Mean perbedaan

SD perbedaan

t

Df

Taraf signifikan

MPS vs Harapan

-0,64

0,58

0,58

69

p < 0,001

MPS vs MPP

0,15

0,96

1,30

69

p > 0,10

Harapan vs MPP

0,79

0,69

6,88

69

p < 0,001

BAB III

PENUTUP

Setelah dilakukan pembahasan di atas, dapat diketahui kesimpulan bahwa :

1. Penelitian deskriptif adalah studi untuk menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat.

2. Secara garis besar ada 3 macam desain dalam kelompok ini, yaitu : deskriptif sederhana, korelsaional, dan diferensial.

3. Metode penelitian deskriptif dipakai untuk memperoleh informasi tentang kondisi yang ada dan metode ini telah banyak dipakai dalam penelitian pendidikan.



Related Article:

 
Copyright 2010 ARTIKEL. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog