Rabu, 30 November 2011

Tantangan Terhadap Teori Evolusi



PROSES PEMBENTUKAN FOSIL



METODE ILMIAH DAN PENELITIAN ILMIAH



MAKROEVOLUSI



KOEVOLUSI



EVOLUSI TAKSONOMI



EVOLUSI MANUSIA



PENGGANDENGAN IMPLEMENT PADA TRAKTOR



TEORI PERGERAKAN PLANET



SISTEM PNEUMATIK



KLIMATOLOGI



FUNGSI TINJAUAN PUSTAKA



IKLIM



MEMBANGUN PERTANIAN MEMBANGUN KEMAKMURAN BERSAMA



DASAR KOMPUTER



LANGKAH-LANGKAH MENGISTAL LINUK DEBIAN



PENGELASAN PADA BEBERAPA JENIS LOGAM

 

 

 

 

Pengelasan Baja Tahan Karat (Stainless Steel)

a)   Klasifikasi Baja Tahan Karat

Baja tahan karat termasuk dalam baja paduan tinggi yang tahan terhadap korosi, suhu tinggi dan suhu rendah. Disamping itu juga mempunyai ketangguhan dan sifat mampu potong yang cukup. Karena sifatnya, maka baja ini banyak digunakan dalam reaktor atom, turbin, mesin jet, pesawat terbang, alat rumah tangga dan lain-lainnya. Secara garis besar baja tahan karat dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu, jenis ferit, jenis austenik, jenis martensit.

·         Sifat baja tahan karat

Baja tahan karat mempunyai sifat yang berbeda baik dengan baja karbon maupun dengan baja paduan rendah yang mana sangat mempengaruhi sifat sifat mampu lasnya. Komposisi kimia dan sifat-sifat mekanik, serta sifat  fisik  maupun dengan baja paduan rendah yang mana sangat mempengaruhi sifat sifat mampu lasnya. Paduan utama dari baja tahan karat Cr atau Cr dan Ni dengan sedikit tambahan unsure lain seperti Mo, Cu, dan Mn. Dari sifat fisiknya yang menunjukkan bahwa  koeffisien muainya kira-kira 1,5 kali baja lunak, maka dalam pengelasan baja tahan karat akan terjadi perubahan bentuk yang lebih besar.  Sebagai contoh dari kekuatan tarik baja tahan karat pada suhu tinggi dapat dilihat pada  gambar 1.1., sedangkan untuk kekuatan mulurnya (1% dalam 10.000 jam).

b)   Pengelasan Pada Baja Tahan Karat (Stainless Steel)

Pengelasan dengan elektrode terbungkus, las MIG dan las TIG adalah cara yang banyak digunakan  dalam pengelasan baja tahan karat pada waktu ini. Disamping itu kadang-kadang digunakan juga las busur redam, las sinar elektron dan las resistensi listrik. Karena baja tahan karat adalah baja paduan tinggi, maka jelas bahwa kualitas sambungan lasnya sangat dipengaruhi dan menjadi getas oleh panas dan atmosfer pengelasan. Sifat mampu las dari masing-masing jenis baja tahan karat akan dijelaskan berikut:

·         Sifat mampu las baja tahan karat: 

1.      Baja tahan karat jenis Martensit

Baja ini dalam siklus pemanasan dan pendinginan selama proses pengelasan akan membentuk martensit yang keras dan eddc3getas sehingga sifat mampu lasnya kurang baik. Dalam mengelas baja tahan karat jenis ini harus diperhatikan dua hal yaitu:

Ø  Harus diberikan pemanasan mula sampai suhu antara 200 -  400°C dan uhu antara pengelasan lapisan harus ditahan jangan sampai terlalu dingin.

Ø  Segera setelah selesai pengelasan suhunya harus ditahan antara 700 - 00°C untuk beberapa waktu.

2.      Baja tahan karat jenis ferit

Baja tahan karat jenis ferit sangat sukar mengeras, tetapi butirnya mudah menjadi kasar yang menyebabkan ketangguhan dan keuletannya menurun. Penggetasan iasanya terjadi pada pendinginan lambat dari 600°C ke 400°C. Karena sifatnya ini maka pada pengelasan baja ini harus dilakukan pemanasan mula antara 70 sampai 100°C untuk menghindari retak dingin dan pendinginan dari 600°C ke 400°C harus terjadi dengan cepat untuk menghindari penggetasan seperti yang diterangkan diatas.

3.      Baja tahan karat Austenit

Baja tahan karat jenis ini mempunyai sifat mampu lasa yang lebih baik bila dibandingkan dengan kedua jenis yang lainnya. Tetapi walaupun demikian pada pendinginan lambat dari 680°C ke 480°C akan terbentuk karbit khrom yang mengendap diantara butir. Endapan ini terjadi pada suhu sekitar 650°C dan meyebabkan penurunan sifat tahan karat  dan sifat mekaniknya. Sifat mekanik dan sifat tahan karat dari logam las sangat dipengaruhi oleh komposisi kimia dan struktur. Karena semua jenis baja tahan karat dalam pengelasan akan mengalami penggetasan dan peretakan, maka harus dijaga agar logam las selalu terletak pada daerah aman dalam gambar1.3.(daerah E R 308). Struktur Austenit akan menjurus pada  erbentuknya retak panas seperti yang ditunjukkan dalam gambar 1.4. Tetapi retak panas ini sangat berkurang apabila austenit mengandung lebih dari 4% ferit. Dengan sifat diatas maka dalam pengelasan baja tahan karat austenit hendaknya: pertama jangan dilakukan pemanasan mula tetapi dihindari terjadinya masukan panas yang  tinggi sehingga tidak terjadi pengendapan antar butir dari karbid-khrom; kedua sebaiknya digunakan elektrode jenis Nb,  Ti atau karbon rendah (C  ≤0,03%) dan ketiga dipilih elektrode yang menghasilkan struktur logam las pada daerah aman dari diagram Schaeffler. 


 

Pengelasan Aluminium Dan Paduan Aluminium

a.      Klasifikasi Aluminium dan Paduannya Serta Sifatnya Dalam Pengelasan.

 

v  Klasifikasi Aluminium dan Paduan Aluminium.  

Aluminium dan paduan aluminium termasuk logam ringanyang mempunyai kekuatan tinggi, tahan terhadap karat dan merupakan konduktor listrik yang cukup baik. Logam ini dipakai secara luas dalam bidang kimia, listrik, bangunan, transportasi, dan alat-alat penyimpanan. Kemajuan akhir-akhir ini dalam teknik pengelasan busur listrik dengan gas mulia menyebabkan pengelasan aluminium dan paduannya menjadi sederhana dan dapat dipercaya. Karena hal ini, maka penggunaan aluminium dan paduannya didalam banyak bidang telah berkembang. Paduan aluminium dapat diklasifikasikan dalam iga cara, yaitu: berdasarkan pembuatan, dengan klasifikasi paduan cor dan  paduan tempa, berdasarkan perlakuan padan dengan klasifikasi, dapat dan tidak dapat diperlaku-panaskan dan cara ketiga yang berdasarkan unsur-unsur paduan. Berdasarkan klasifikasi ketiga ini aluminium dibagi dalam tujuh jenis yaitu: jenis Al murni, jenis Al-Cu, jenis Al-Mn, Al-Si, jenis Al-Mg, jenis Al-Mg, dan jenis Al-Zn.

 

Ø  Paduan yang dapat dan tidak dapat diperlaku-panaskan

Paduan yang dapat diperlaku-panaskan adalah paduan dimana kekuatannya dapat diperbaiki dengan pengerasan dan penemperan, sedangkan paduan  yang tidak dapat diperlaku-panaskan kekuatannya hanya  dapat diperbaiki dengan pengerjaan dingin. Pengerasan pada paduan aluminium yang dapat diperlaku-panaskan tidak  karena adanya transformasi martensit seperti dalam baja  karbon tetapi karena adanya pengendapan halus fasa kedua  dalam butir kristal paduan. Karena proses ini maka pengerasan pada paduan aluminium disebut sebagai pengerasan endap atau pengerasan presipitasi. Sifat-sifat pengerasan presipitasi dari paduan aluminium tergantung pada unsur-unsur paduannya.

Logam paduan aluminium yang termasuk dalam kelompok yang tidak dapat diperlaku-panaskan adalah jenis Al-murni, jenis Al-Mn, jenis Al-Si dan jenis Al-Mg. Sedang kelompok yang dapat diperlaku-panaskan masih dibagi dalam jenis perlakuan panasnya yaitu anil-temper (O-temper), pengerasan regang (H-temper), pengerasan alamiah dan pengerasan buatan.

Paduan aluminium yang dapat dikeraskan secara alamiah adalah jenis Al-Cu, dimana cara pengerasannya adalah karena terjadinya pengendapan fasa  kedua pada suhu kamar dalam waktu beberapa hari setelah perlakuan panas pelarutan dari fasa kedua. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok pengerasan buatan adalah jenis Al-Cu-Mg, jenis Al-Mg-Si dan jenis Al-Zn-Mg. Dalam proses pengerasan ini pengendapan fasa kedua terjadi pada suhu diatas suhu kamar sampai 160°C atau 185°C dalam waktu 6 sampai 20 jam.

 

Ø  Sifat umum dari beberapa jenis paduan

1.    Jenis Al – murni teknik (seri 1000)

·                 Memiliki kemurnian antara 99.0% dan 99.9%

·                 Tahan karat

·                 Konduksi panas dan konduksi listrik  

·                 Memiliki  kekuatan yang rendah.

2.    Jenis paduan Al-Cu (seri 2000)

·         Tahan korosinya rendah

·         Sifat mampu lasnya kurang baik, sehingga banyak

·         digunakan pada konstruksi keling, pesawat terbang.

3.    Jenis Paduan Al-Mn (seri 3000)

·         Tidak dapat diperlakukan  panas sehingga penaikkan kekuatan hanya dapat diusahakan  melalui pengerjaan dingin dalam proses pembuatannya

·         Tahan korosi

·          Sifat potong dan sifat mampu lasnya

·         Memiliki kekuatan yang tinggi.

4.    Paduan jenis Al – Si (seri 4000)

·         Tidak  dapat diperlakukan panas

·         Jika dalam keadaan cair mempunyai sifat mampu alir

yang baik dan dalam proses  pembekuannya tidak terjadi retak.

5.    Paduan jenis Al-Mg (seri 5000)

·         Tidak dapat diperlakukan panas

·         Tahan korosi terutama korosi oleh air laut

·         Memiliki sifat mampu lasnya yang baik

6.    Paduan jenis Al-Mg-Si (seri 6000)

·         Dapat diperlakukan panas™ 

·         Memiliki sifat mampu potong

·         Memiliki sifat mampu las

·         Daya tahan korosi yang cukup

7.    Paduan jenis Al-Zn (seri 7000)

·         Dapat diperlakukan panas 

·         Unsur yang ditambahkan  pada paduan ini adalah Mg,Cu dan Cr. 

·         Tahan korosi

 

Ø  Sifat Mampu Las

Dalam hal pengelasan paduan aluminium mempunyai sifat yang kurang baik bila dibandingkan  dengan baja. Sifat-sifat yang kurang baik atau merugikan tersebut adalah:

1.      Karena panas jenis dan daya  hantar panasnya tinggi maka sukar sekali untuk memanaskan dan mencairkan sebagian kecil saja.

2.      Paduan aluminium mudah teroksidasi dan membentuk oksida aluminium Al2O3 yang mempunyai titik cair yang tinggi.

3.      Karena mempunyai koefisien muai yang besar, maka mudah sekali terjadi deformasi sehingga paduan-paduan yang mempunyai sifat getas yang panas akan cenderung membentuk retak panas.

4.      Karena perbedaan yang tinggi  antara kelarutan hidrogen dalam logam cair dan logam padat, maka dalam proses pembekuan yang terlalu cepat  akan terbentuk rongga halus bekas kantong-kantong hidrogen.

5.      Paduan aluminium mempunyai berat jenis rendah, karena itu banyak zat-zat lain yang terbentuk selama pengelasan akan tenggelam.

6.      Karena titik cair dan viskositasnya rendah, maka daerah yang kena pemanasan mudah mencair dan jatuh menetes.

v  Retak Las

Sebagian besar retak las  yang terjadi pada paduan aluminium adalah retak panas  yang termasuk dalam kelompok retak karena pemisahan. Retak las  ini dapat terjadi pada proses pembekuan dan proses pencairan.

v  Lubang-Lubang Halus

 Lubang halus yang terjadi  pada proses pengelasan aluminium disebabkan  oleh gas  hidrogen yang larut kedalam aluminium cair.

v  Pengaruh Panas Pengelasan

Panas pengelasan pada paduan aluminium akan menyebabkan terjadinya pencairan sebagian, rekristalisasi, pelarutan padat atau pengendapan, tergantung pada tingginya suhu pada daerah las.

v  Sifat Mampu Las Dari Aluminium Dan Paduannya

Berdasarkan sifat mampu las  dan paduannya dapat dibagi dalam lima kelompok, yaitu:

·         Jenis aluminium murni teknik dan jenis paduan Al-Mn.

·         Jenis paduan Al-Mg

·         Jenis paduan Al-Zn-Mg

·         Jenis paduan Al-Mg-Si

·          Jenis paduan Al-Cu dan paduan Al-Zn

 

b.      Pengelasan Aluminium dan Paduannya

Ø  Jenis pengelasan yang digunakan adalah  las gas, las  busur  elektroda dan las sinar elektron

Ø  Jenis las yang digunakan adalah las busur gas mulia, yaitu lapisan oksida yang terjadi pada permukaan logam aluminium , sehingga dipecah dan dibersihkan dengan busur listrik. Karena selam pengelasan terlindung oleh gas mulia  maka permukaannya bersih.

Ø  Apabila digunakan cara lain maka diperlukan fluks yang berisi klorida atau fluorida untuk menghilangkan lapisan oksida yang terjadi. Bahaya apabila menggunakan fluks adalah apabila fluks tertinggal di dalam logam  yang akan menyebabkan korosi .

Ø  Persiapan pengelasan :

1.    Persiapan pada logam induk :  Dilakukan pembersihan pada permukaan yang akan dilakukan di las dari zat oksida dan zat lain yang dapat menyebabkan terjadinya cacat.

2.    Persyaratan  tempat mengelas  Dibutuhkan tempat pengelasan yang bersih . Apabila digunakan las busur dengan gas  mulia maka harus ada pelindung angin. Agar tidak terjadi percampuran dengan gas lain , maka tempat pengelasan harus terpisah  dari proses pengerjaan lainnya.

3.     Pemilihan Logam Penggisi  Pada dasarnya pemilihan logam penggisi  harus sejenis dengan logam induk. Waktu penyimpanan logam penggisi  sependek mungkin  sehingga pembentukan lapisan oksida dan penyerapan uap air dapat dihindari.

4.    Pemilihan gas pelindung.  Gas pelindung yang digunakan adalah argon dan helium, gas Argon memberikan  perlindungan yang lebih baik dari gas He, tetapi penembusannya dangkal. Sedangkan untuk memperdalam penembusan maka digunakan pelindung campuran yang terdiri dari gas Ar dan He. Gas pelindung harus memiliki kemurnian yang tinggi, karena gas ini akn berhubungan dengan  logam cair dan sangat berpengaruh pada hasil pengelasan.

5.    Pembuatan alur dan pemahatan lasan  Pembuatan alur dan pemahatan lasan dengan busur pada logam alumunium dan  paduannya tidak memberikan kehalusan permukaan yang memuaskan 


 

 

 



Selasa, 29 November 2011

KEDONDONG ( Spondias dulcis Forst )

clip_image001

KLASIFIKASI ILMIAH

Kerajaan : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Sapindales

Familia : Anacardiaceae

Genus : Spondias

Spesies : Spondias dulcis

Nama binomial yaitu :

Spondias dulcis Forst.

Nama umum / dagang yang biasanya dikenal yaitu : kedondong

Kedondong ini merupakan tanaman buah yang umumnya banyak sekali terdapat di seluruh daerah tropic dan termasuk ke dalam Angiospermae. Biasanya dalam bahasa Inggris orang sering menyebutnya dengan ambarella, otaheite apple, atau great hog plum. Dalam setiap Negara maupun daerah, nama buah ini berbeda-beda seperti di Asia Tenggara biasa disebut : kedondong (Indonesia & Malaysia), hevi (Filipina), gway (Myanmar), mokah (Kamboja), kook kvaan (Laos), makak farang (Thailand), dan co'c (Vietnam). Selain itu kedondong juga disebut Kadondong (Sunda), Kedondong (Jawa), Kedundung (Madura), Kacemcem (Bali), Inci (Bima,NTT), Karunrung (Makasar), dan Dau kaci (Bugis).

MORFOLOGI

clip_image003Kedondong ini adalah buah yang berasal dari pohon dengan tinggi ± 20 m.

Daun : Tumbuhan ini termasuk ke dalam tanaman berdaun majemuk, bagian yang terlebar yang berada di tengah-tengah helaian daunnya berbentuk jorong ( ovalis ), pangkal daun runcing ( acutus ), ujung daun meruncing ( acuminatus ), warna daun hijau dengan panjang daunnya 5-8 cm dan lebar 3- 6 cm, dilihat dari arah tulang-tulang cabang yang besar pada helaian daun daun kedondong ini termasuk daun yang bertulang menyirip dengan jumlah anak daun yang gasal ( imparipinnatus ) dan anak daun yang berpasang-pasangan, tepi daunnya rata ( integer ), tata letak daun tersebar ( folia sparsa ), permukaan daun licin (laevis) dan mengkilat ( nitidus ).

Batang : Tumbuhan ini mempunyai batang yang berkayu ( lignosus ) yang biasanya keras dan kuat karena sebagian besar terdiri dari kayu yang terdapat pada pohon dengan bentuk batangnya yang bulat ( teres ) dan tumbuh tegak, percabangan batangnya yaitu simpodial dimana batang pokoknya sukar untuk ditemukan karena dalam perkembangannya kalah cepat dan besar pertumbuhannya dibandingkan dengan cabangnya, permukaan batang halus dan berwarna putih kehijauan.

Akar : Tumbuhan ini berakar tunggang dan berwarna coklat tua.

clip_image005Bunga : Tumbuhan ini termasuk bunga majemuk ( inflorescentia ), berbentuk malai ( panicula ) dimana ibu tangkainya mengadakan percabangan monopodial, panjang 24-40 cm, panjang kelopak bunganya ± 5 cm, jumlah benang sari delapan berwarna kuning, mahkota bunga berjumlah empat sampai lima, lanset, warna bunganya putih kekuningan.

clip_image007Buah : Berbuah buni ( bacca ) dimana buah ini mempunyai dinding lapisan luar yang tipis atau kaku seperti kulit dan lapisan dalam yang tebal, lunak, dan berair serta seringkali dimakan, berbentuk lonjong, buah sejati tungga yang berdaging, mempunyai diameter ± 5 cm dan berserat, warna buah hijau kekuningan dengan rata-rata beratnya ± 0,7-1 kg/buah, biasanya buahnya tumbuh dalam jumlah yang banyak.

Biji : Bijinya bulat dan berserat kasar, warna biji putih kekuningan.

clip_image009ANATOMI

clip_image010Keterangan gambar :

1. Pembuluh yang berhubungan dengan floem : fasiculer dan intravasiculer 2. Bagian pembuluh yang dibulatkan lumen, 3. pembuluh floem dengan lumen yang oval, 4. Parenkim dengan sel epitel sekresi, 5. Sekresi translucent dalam pembuluh lumen, 6. Lumen dari floem dengan sekresi translucent, 7. Lumen elongasi dari bagian pembuluh, singkatannya :

Bd ( duct sheath ), Co ( kolenkim ), Ep ( Epidermis ), Es ( sekresi epithelium ), Df ( pembuluh yang dihubungkan dengan floem ), Dm ( bagian pembuluh ), Id ( idioblast ), Mp ( parenkim ).

Pada penampang melintang pada daun terdapat epidermis papilla abaxial, juga terdapat hypodermis adaxial, tetapi dalam urat daun minornya tidak terdapat transfer sel floem. Pada stem terdapat lubang sekresi yang mengandung resin dan getah, berkambium gabus, nodes tri-lakunar, jaringan pembuluh darah utama sentrifugal, tidak terdapat floem internal, terdapat xylem tanpa fiber trakeid melainkan dengan fiber libriform. Tipe reproduksi dari tumbuhan ini yaitu hermaprodit.

FISIOLOGI

Spondias dulcis ini atau lebih dikenal dengan nama kedondong ini termasuk ke dalam tumbuhan C3 karena produk fiksasi karbon organic pertamanya ialah senyawa berkarbon tiga ( 3-fosfogliserat), dimana tumbuhan ini melewati reaksi gelap dan reaksi terang serta tumbuhan ini memproduksi sedikit makanan apabila stomatanya tertutup pada hari yang panas dan kering. Tingkat CO2 yang menurun dalam daun akan mengurangi bahan ke siklus Calvin, dimana rubisko ini dapat menerima O2 sebagai pengganti CO2. Karena konsentrasi O2 melebihi konsentrasi CO2 dalam ruang udara di dalam daun, maka rubisko menambahkan O2 pada siklus Calvin dan bukannya CO2. Akibatnya produknya terurai dan satu potong senyawa berkarbon dua dikirim keluar dari kloroplas. Lalu mitokondria dan peroksisom akan memecah molekul berkarbon dua itu menjadi CO2 sehingga proses ini sering juga disebut fotorespirasi karena proses ini terjadi dalam cahaya dan mengkonsumsi O2. Akan tetapi fotorespirasi ini tidak menghasilkan ATP. Tahap-tahap respirasi dari tumbuhan ini juga sama secara umum, yaitu melalui tahap glikolisis, grooming phase, siklus Krebs, fosforilasi oksidatif dan ETC.

MANFAAT DAN KANDUNGAN

Manfaat buah kedondong ini enak jika dimakan dalam keadaan segar, tetapi sebagian buah matangnya bisa juga diolah menjadi selai, jeli, dan sari buah. Buah yang direbus dan dikeringkan dapat disimpan untuk beberapa bulan sedangkan buah mentahnya banyak digunakan dalam rujak dan sayur, serta untuk dibuat acar. Daun mudanya dapat juga dikukus untuk dijadikan sebagai lalapan. Buah dan daunnya juga dapat dijadikan sebagai pakan ternak serta kayunya yang berwarna coklat muda dan mudah mengambang ini tidak dapat digunakan sebagai kayu pertukangan, tetapi kadang-kadang dapat dibuat perahu. Manfaat obat dari buah, daun, dan kulit batangnya yaitu dapat digunakan untuk pengobatan borok, kulit perih, dan luka bakar.

Dalam setiap 100 gram bagian buah kedondong yang dapat dimakan ini biasanya mengandung 60-85 gram air, 0,5-0,8 gram protein, 0,3-1,8 gram lemak, 8-10,5 gram sukrosa, dan 0,85- 3,60 gram serat. Dimana daging buahnya ini merupakan sumber vitamin C dan zat besi sedangkan buah yang belum matang mengandung pektin sekitar 10%. Daun, kulit batang dan kulit akar Spondias dulcis ini juga mengandung saponin, flavonoida, dan tanin.



RANGKAIAN KONTROL OTOMATIK

1.      Rangkaian Pengontrol Kecepatan Untuk Bor PCB

 

clip_image002

Here is a simple ambit for authoritative the acceleration of DC operated PCB drills. The affection of this ambit is the ICLM3578 which is a actual able chip switching regulator that can be acclimated for applications like this. The LM3578 has abstracted inverting and non inverting acknowledgment inputs (pin1 and pin2), 1V centralized advertence voltage antecedent and a congenital in oscillator circuit. The IC can be configured to access up to 90% assignment cycle. In the circuit, capacitor C2 is the timing capacitor which determines the abundance of the centralized oscillator. The assignment aeon depends on the sum of resistors R1 and R2 and it can be assorted by adjusting the POT R2. The achievement PWM arresting will be accessible at pin 5 of the IC. The Q1 drives the motor M

 

according to the PWM arresting accessible at pin5 and appropriately by capricious the assignment aeon of the PWM beachcomber by capricious POT R2, the acceleration of the motor can be adjusted. The diode D1 is a freewheeling diode which protects the MOSFET Q1 from transients produced by the motor. Capacitor C3 is aloof a clarify capacitor.

 

 

2.      Rangkaian Pengatur Kelembapan dan Temperatur

clip_image004
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


3.      Rangkaian Kontrol Cahaya

 

clip_image006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.      Rangkaian pengendali konveyor

clip_image008 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rangkaian pengendali alarm dan konveyor dibuat sederhana yang terdiri dari rangkaian pensaklaran menggunakan sebuah transistor tipe A 733 dan dua buah resistor yang

terhubung ke relay 5 Volt, Semua pin keluaran dari mikrokontroler AT89C51 dalam

keadaan aktif tinggi (sama dengan tegangan Vcc) pada saat belum diisikan program. Pada gambar di atas transistor akan aktif apabila pada kaki basis mendapat tegangan rendah

(logika 0)

 

5.      PLC pengendali konveyor

 

 

clip_image010
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


6.      Rangkaian sensor suhu

clip_image012 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


clip_image014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.      Rangkaian pengendali motor stepper

clip_image016
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Rangkaian pengendali motor stepper (stepper motor driver) menggunakan

komponen utama berupa sebuah IC logika XOR (74LS86) dan sebuah IC JK flip-flop

(74LS76). Rangkain dengan kedua IC tersebut berfungsi untuk menghasilkan empat

pulsa keluaran berurutan yang dapat berbalik urutannya dengan menerapkan logika

tertentu pada rangkaian. Rangkaian tersebut memerlukan pulsa clock untuk dapat

beroperasi. Sebagai sumber clock digunkan rangkaian berbasis IC timer 555. Rangkain pembangkit clock ini dapat menghasilkan dua macam frekuensi pulsa keluaran guna mendukung dua kecepatan motor stepper. Kemudian untuk mendukung pulsa-pulsa dengan arus besar (sekitar 1 - 3 A) digunakan transistor daya NPN tipe TIP31 sebagai solid state switch.

 

8.      Pengendali tekanan pada sisitem hidrolik pintu air

 

clip_image018
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




 
Copyright 2010 ARTIKEL. All rights reserved.
Themes by Bonard Alfin l Home Recording l Distorsi Blog